Kamis, 12 November 2009

Duhai Suamiku...

Kadangkala mungkin tergambar di benak fikiranmu, bahwa engkau telah salah ketika memilih diriku menjadi pasanganmu. Kadang kala ia mengganggu dalam pergaulan sehari-harimu denganku, terkadang ku takut perasaan cintamu berubah menjadi benci, limpahan kasih sayangmu menjelma menjadi kemarahan, dan ketenangan pun berubah menjadi ketegangan.

Suamiku…..
Di saat engkau masih sibuk dengan pekerjaan yang tak kunjung selesai, tak jarang aku kau abaikan. Waktu di rumah pun, kadang ku ikhlaskan demi masa depanmu. Bukankah engkau tahu aku pun butuh perhatian darimu. Terkadang ku cari perhatian itu, namun terlihat salah dipandanganmu. Kalaulah itu terlihat salah, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19].
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.”
Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.
Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.
Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan, sadarlah, sesungguhnya egois telah menguasai dirimu. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.
Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu.
Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Allah,Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Jika ia rindu,jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.
Ya Allah,Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,telah berjumpa pada taat pada-Mu,telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Amin ya rabbal alamin.

by..sigit setiawan(sigitsetiawan.wordpres.com)

Senin, 16 Maret 2009

DENGAN ISTIGHFAR MERAIH RIZKI

Salah satu kesalahan manusia adalah membebani masa sekarang dengan beban-beban masa depan yang panjang. Di kala seseorang sedang berangan-angan, pikirannya melintas jauh ke dalam suatu garis yang tak berujung, dan dengan cepat ia beralih ke suatu kecemasan yang selalu merongrong hidupnya. Apa yang menyebabkan mereka melakukan kesalahan seperti itu? Tak lain disebabkan ketakutan dan kecemasan akan rezeki dan masa depan!Padahal kepentingan utama kita sejatinya bukanlah untuk apa yang terletak samar-samar dikejauhan, tetapi untuk mengerjakan apa yang jelas berada di tangan. Bukankah keamanan, kesehatan, dan kecukupan merupakan suatu kekuatan yang diberikan kepada akal agar dapat berfikir dengan tenang dan mantap, yang kadang-kadang dapat mengubah perjalanan hidup seseorang? Bukankah membebani pikiran dengan kesulitan yang belum tiba waktunya adalah suatu kebodohan yang nyata? Tapi itulah manusia, kebanyakan mereka menganggap kecil nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya dalam hitungan detik, dan acap membesar-besarkan kegagalan mereka dalam mengumpulkan kekayaan atau mendapatkan posisi yang mapan. Ya, saat ini kita hidup dalam belantara dunia yang tengah merendahkan nikmat-nikmat Allah dan tidak mensyukuri keadaan yang diberikan-Nya. Kita hidup dalam parameter kebendaan dan konsumerisme yang diusung oleh Barat. Sehingga jika parameter itu tak terpenuhi, keluhan demi keluhan terdengar, "Mengapa Allah tak melimpahkan harta kekayaan dan rezeki yang berlimpah, bukankah aku selalu berdoa siang dan malam?"Sekarang mari kita lihat parameter dalam bentuk yang lain! Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Abdullah bin Amru bin Ash: "Apakah aku termasuk seorang muhajirin yang miskin?" Abdullah balik bertanya, "Apakah engkau mempunyai seorang istri yang engkau nafkahi?" Orang itu menjawab, "Ya ada!" Abdullah bertanya lagi, "Apakah engkau mempunyai tempat tinggal yang kauhuni?" Orang itu menjawab, "Ya ada!" Lalu Abdullah berkata kepadanya, "Kau termasuk orang kaya!" Orang itu berkata lagi, "Bahkan aku pun mempunyai pelayan!" Abdullah menambahkan, "Kalau begitu, engkau termasuk golongan raja-raja!" Hr. MuslimSesungguhnya masalah rezeki adalah masalah yang paling merisaukan manusia sehingga mereka berhasrat untuk ikut mengatur masalah rezeki ini. Inilah sebuah kerisaun yang sesungguhnya telah dijamin oleh Allah. Karena itu di dalam al-Qur'an, Allah berulang kali menyebutkannya. Sama seperti ketika kita mengulang-ulang berbagai alasan ketika mengetahui bahwa lawan bicara kita selalu meragukan kita. Atau sama seperti Allah juga mengulang-ulang penjelasan mengenai hari akhirat dan hari kiamat dalam banyak ayat karena manusia selalu ingkar dan bimbang, ragu dan tidak percaya bahwa kelak manusia akan kembali dihidupkan setelah tubuh dan tulang-belulangnya hancur, menjadi tanah atau dimakan binatang buas. Allah swt berfirman: "Di langit terdapat rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian. Demi Tuhan langit dan bumi, ia benar akan terjadi seperti perkataan yang kalian ucapkan." QS Qashash: 7Allah telah menjamin rezeki anak-cucu Adam agar mereka berkonsentrasi mengabdi hanya kepada-Nya dan agar mereka tidak sibuk mencarinya sehingga lalai dari ibadah kepada-Nya. Allah swt berfirman: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menginginkan rezeki sedikit pun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Allah-lah Yang Memberi rezeki dan memiliki kekuatan yang sangat kokoh." QS adz-Dzariyaat: 56-58Bahkan sebagai ar-Razaaq, Allah menegaskan sebuah jaminan rezeki yang meliputi seluruh mahluk. Lihatlah betapa luasnya jaminan Allah dan kekayaan Rububiyah-Nya. Tak ada satu mahluk pun yang luput dari jangkauan-Nya. Allah swt berfirman: "Tidak ada satu mahluk melata pun kecuali Allah memberi rezekinya. Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semua sudah tertulis dalam Lauh Mahfuz." QS Huud: 6Kendati demikian, tetap saja manusia merisaukan rezeki, sampai-sampai Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi berkata, "Dua hal yang paling sering menghijab mahluk dari Allah swt, yaitu kerisauan terhadap rezeki dan kecemasan terhadap mahluk." Lalu bagaimana caranya agar kita tak terjerembab dalam kerisauan ini? Syaikh Ibnu 'Athaillah as-Sakandari berkata, "Ketahuilah, hanya orang yang diberi taufiklah yang terhindar dari hasrat untuk mengatur urusan rezeki. Orang seperti itu sungguh telah mendapat anugerah yang besar. Mereka benar-benar percaya kepada Allah sehingga mereka merasa tenteram dan senantiasa bersandar kepada-Nya."Lalu mengapa kita tak mengindahkan resep dari Nabi saw yang mengatakan, jika ingin hidup ini bermakna, bahagia dan dilapangkan rezekinya oleh Allah, jagalah kesehatan dan memohon ampun atau beristighfar. Tak heran jika Rasulullah saw tak pernah melepaskan lidahnya dari beristighfar. Menurut al-A'az al-Muzanni ra, Nabi saw bersabda, "Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku. Maka aku beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah sehari seratus kali." Hr. Muslim. Abu Hurairah ra juga mendengar Rasulullah saw bersabda, "Demi Allah, dalam sehari aku beristighfar dan memohon taubat kepada Allah lebih dari 70 kali." Hr. BukhariIni menunjukkan bahwa istighfar adalah sebuah kebutuhan sebagaimana kebutuhan manusia akan rezeki. Karenanya Nabi saw mengatakan dengan memperbanyak istighfar, Allah akan melimpahkan rezeki seseorang. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa terbiasa memperbanyak istighfar, Allah akan melepaskannya dari segala kesukaran, melapangkannya dari segala kesempitan, dan memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangkanya." Hr. Abu Dawud.Saudaraku, sesungguhnya rezeki tidaklah selalu identik dengan harta kekayaan. Tetapi harta yang diperoleh dengan jalan penuh kemuliaan adalah sebaik-baiknya harta. Itu berarti harta yang diperolehnya merupakan bagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Dan itu berarti pula, jika suatu saat harta itu beralih darinya, ia tak akan mengeluh. Orang-orang yang tergila-gila oleh harta akan mendatangkan kerendahan dan kehinaan. Perhatikanlah orang-orang yang begitu cinta dengan hartanya, hidupnya diselimuti oleh kecemasan, takut kehilangan hartanya, akibatnya mereka bakhil dan cenderung zhalim. Tak ada terapi yang tepat untuk mengatasi keadaan ini selain dari apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, "Sesungguhnya harta itu sangat memikat. Bagi orang yang mengambilnya dengan kemurahan hati, ia akan diberkati. Dan bagi orang yang mengambilnya dengan tamak, ia tidak akan diberkati ibarat orang yang makan tapi tidak kenyang-kenyang." Hr. Abu Dawud.Ya Allah, Engkau telah mengatur segala sesuatu sebelum keberadaan kami. Kami mengetahui bahwa tidak akan terjadi kecuali yang Kauinginkan. Pengetahuan ini tidaklah bermanfaat bagi kami kecuali ketika Engkau menginginkannya. Karena itu, kembalikan kami dengan kebaikan-Mu, muliakan kami dengan karunia-Mu, limpahi kami dengan pertolongan-Mu, pagari kami dengan pemeliharaan-Mu, pakaikan untuk kami busana para kekasih-Mu, dan masukkan kami ke dalam perlindungan-Mu. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, kami mengetahui bahwa hukum-Mu tidak bisa ditentang dan ketentuan-Mu tak terlawan. Kami tidak mampu menolak apa yang telah Kautentukan dan menghapus apa yang Kauputuskan. Karena itu, kami meminta kelembutan-Mu dalam setiap ketentuan-Mu dan pertolongan-Mu dalam setiap keputusan. Jadikan kami di dalamnya termasuk orang yang menjaganya, wahai Tuhan semesta alam.Ya Allah seluruh rezeki berada di tangan-Mu, baik itu rezeki dunia maupun rezeki akhirat. Karena itu, berikan kepada kami rezeki yang menurut-Mu berguna dan maslahat untuk kami, amien!DEsa Pamulang BARAT DaVY BYa (MAJELIS AZZIKRA)

Rabu, 04 Februari 2009

JANGAN "COBA-COBA KHAWATIR"

Tahukah saudaraku..?apa yang kita prasangkakan ALLAH akan menurutinya.Khawatir,adalah salah satu penyakit hati .Dari sebuah pengalaman seorang teman..Suatu hari dia sangat khawatir akan turunnya hujan jika dia pulang kerja nanti,sedangkan payung tidak dibawanya.Begitu khawatirnya dia akan turunnya hujan hingga berusaha agar pekerjaanya cepat selesai.Dan akhirnya pekerjaanya selesai tepat waktu.Tersenyumlah dia walau tetap khawatir hujan akan turun.Dan..Allah memang Dzat yang maha segalanya,hingga apa2 yang ada di dalam qolbu ummatnya(kekhawatiran) didengarNYA & dikabulkanNYA.

Lain halnya kisah seorang teman yang suatu hari motornya macet,sedangkan hari sudah siang & dia akan terlambat jika dalam waktu 20 menit dia tidak sampai kantor.Untuk naik angkutan kota,dia harus ganti dua kali.Ah...,bisa dibayangkan keadaan hatinya bukan?Tapi alhamdulillah...dia khusnudzon bahwa dia tidak akan terlambat.Dia berusaha mengutak atik motornya mencari apa yg rusak&berusaha memperbaikinya.Dan apa yang didapatkanya dari persangkaannya tadi?Subhanallah...Allah mengirimkan seseorang yang ternyata sopir kantor teman tersebut yang kebetulan melewati jalanan tersebut sehabis mengisi bensin.Akhirnya..teman tersebut tidak terlambat ke kantor karena pertolonganNYA.Begitulah,jika kita berprasangka baik,maka kebaikan itu pula yang akan didapat.Dan jika kita berprasangka jelek,maka kejelekanlah yang akan didapat.

Oleh karena itu jangan coba-coba khawatir,karena yang dikhawatirkan akan menjadi kenyataan.Allah sebagai pencipta melarang makhlukNYA yang bernama manusia,khususnya orang2 yang beriman,mempunyai perasaan khawatir.Misalnya firman Allah dalam surat Al-Qashash ayat 7:Dan Kami Ilhamkan kepada ibu Musa;"Sususilah dia,dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati,karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu,dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul."

Orang yang khawatir terus memeras pikirannya.Bahkan tanpa terasa,pikirannya sudah melesat jauh ke masa lima,sepuluh, bahkan dua puluh tahun yang akan datang.Dengan perasaan khawatir,ia sudah memikirkan nasib atau masa depan anak istrinya dalam kurun waktu itu.Orang yang khawatir dengan demikian mendahului kuasa Allah.Ini sungguh tidak efektif,karena pikiran-pikiran semacam itu akan melemahkan fisik.

Itulah yang dimaksudkan dengan khawatir yang berlebihan.Buat apa khawatir?!Bukankah Allah akan menanggung hidup kita,Dia yang mencipta,Dia pula yang mengatur kehidupan kita.Khusnudzon dengan segala daya usaha,doa,berpasrah diri padaNYA.Mari kita renungkan ayat 26-27 surat Ali-Imran berikut:"Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan,Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki.Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.Di tangan Engkaulah segala kebajikan.Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.Engkau masukkan malam kedalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam.Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati,dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup.Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab(batas)"Dengan menghayati ayat ini,niscaya hati akan tenang,terhindar dari khawatir.Karenanya,sekali lagi..jangan khawatir,LATAHZAN!

Semoga krisis global yang sering dijadikan alasan orang merasa khawatir segera diselesaikan oleh Allah dengan prasangka baik kita.Semoga Allah melapangkan hati kita,menambah kesabaran kita,menguatkan iman kita.Maka percayalah..Allah senantiasa bersama kita..LATAHZAN...
Amin..


Jumat, 16 Januari 2009

"ILALANG"

Di sebuah tepian ladang, seorang anak memperhatikan ayahnya yang terus saja bekerja. Sang ayah terlihat menggemburkan tanah dengan cangkul, membaurkan pupuk di sekitar tanaman, dan membabat tumbuhan liar di sekitar ladang. Sesekali, sang ayah harus mencabut ilalang. Anak itu terus memperhatikan dengan heran.
“Kenapa ayah melakukan itu? Bukankah ilalang itu masih terlalu kecil untuk dicabut?” teriak si anak sambil berjalan mendekati ayahnya. Ia membawakan air yang baru saja ia tuang ke sebuah gelas kayu. Sambil tangan kiri menghapus peluh, tangan kanan ayah anak itu meraih gelas dari tangan kecil anaknya.
“Anakku, inilah pekerjaan petani. Kelak kamu akan tahu,” jawab sang ayah singkat. Setelah minum, petani itu memanggul cangkul di dekatnya. “Hari sudah sore! Mari kita pulang, Nak!” ucap sang ayah sambil meraih pundak anak lelakinya itu.
Sepulang dari ladang, petani itu sakit. Hingga beberapa hari, ia dan anaknya tidak bisa ke ladang yang jaraknya sekitar satu jam berjalan kaki, naik dan turun. Petani itu tampak gelisah. Ia seperti ingin memaksakan diri berangkat ke ladang.
“Ayah kenapa? Bukankah waktu itu ladangnya sudah ayah bersihkan, dipupuk, dan dipagar,” suara anak itu sambil membantu ayahnya bangun dari tempat tidur. “Itu belum cukup, Nak. Kelak kamu akan tahu!” ucap si petani sambil tertatih-tatih keluar rumah. Ia mengajak anaknya pergi ke ladang.
Setibanya di ladang, anak itu terperangah. Ia seperti tidak percaya apa yang dilihat. Hampir seluruh ladang ditutupi ilalang. Cabai dan tomat yang tumbuh mulai membusuk. Daun-daunnya pun dihinggapi ulat.
“Anakku, inilah yang ayah maksud tugas petani. Kini kamu paham, kenapa ayah gelisah. Karena seorang petani tidak cukup hanya menanam, menebar pupuk, dan memagar tanamannya. Tapi, ia juga harus merawat. Tiap hari, tiap saat!” jelas sang ayah sambil menatap sang anak yang masih terkesima dengan ilalang di sekitar ladang ayahnya. **
Mereka yang terpilih Allah swt. sebagai pegiat dakwah, sadar betul kalau tugasnya begitu penting, mulia, dan sekaligus berat. Berat karena tugas itu tidak cukup sekadar menanam kesadaran, menebar sarana dakwah, dan memagari ladang dakwah dari terjangan angin dan hewan perusak. Lebih dari itu, ia harus merawat.
Seperti halnya ladang tanaman, ladang dakwah bukan benda mati yang akan lurus-lurus saja kalau ditinggal pergi. Tanahnya hidup. Udara di sekitar pun dinamis. Yang akan tumbuh bukan saja tanaman yang diinginkan, tanaman liar seperti ilalang pun akan tumbuh subur merebut energi kesuburan ladang. Belum lagi telur-telur hama yang hinggap ke daun tanaman setelah berterbangan digiring angin.
Pegiat dakwah persis seperti seorang petani terhadap tanamannya. Ia sebenarnya sedang berlomba dengan ilalang dan hama. Kalau ia tidak sempat merawat, ilalang dan hama yang akan ambil alih. Kelak, jangan kecewa kalau buah-buah tanaman yang akan dipetik sudah lebih dulu membusuk. (mnuh)-eramuslim/22/10/08

Label Cloud


 

Design by Amanda @ Blogger Buster